Teatrikal PUNAKAWAN

Teatrikal Punakawan mensosialisasikan tata tertib sekolah

T A R H I B Ramadhan 1433 H

Aksi kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1433 H

Bisnisday Ramadhan 1433 H

Jualan ta'jil. Hasil penjualan diberikan semua untuk membantu warga muslim Rohingya.

Teng Dung

Aksi membangunkan warga sekitar sekolah untuk segera bersiap makan sahur

Aksi Hari Anak Sedunia

Pembelajaran outdoor kelas V pelajaran PKn. Menyeru hentikan kekerasan terhadap anak

Senin, 30 Januari 2012

Family Gathering "keluarga besar SD Juara Semarang"




Keramaian nampak terlihat di SD Juara Semarang hari sabtu itu. Setiap yang datang membawa jajan pasar sebanyak 5 biji. Begitu masuk lagi ke dalam ruangan kantor SD Juara Semarang, yang terlihat bukanlah suasana kantor, namun sudah berubah menjadi semacam dapur umum. Bagian belakang banyak sekali piring-piring berisi jajan pasar, sedangkan di ruang tamu ramai dengan ibu-ibu yang sedang memotong-motong buah dan menghaluskan sambal untuk membuat rujak. 

Ya, hari itu memang ada parenting school edisi special, family gathering SD Juara Semarang. Berbeda dari parenting school biasanya, kali ini tiap keluarga diwajibkan membawa jajanan pasar jenis apapun sejumlah 5 buah. Namun walaupun hanya diwajibkan membawa lima buah, beberapa keluarga nampak membawa satu nampan penuh berisi makanan yang bila dihitung jumlahnya pasti lebih dari 10 buah.

Pada pagi hari, bapak-bapak wali murid tidak ada satupun yang terlihat di lingkungan SD Juara Semarang, namun bukan berarti mereka tidak ikut, ternyata mereka langsung berkumpul di Djoglo Tria Futsal untuk mengadakan pertandingan futsal antara wali murid SD Juara melawan para amil Rumah Zakat. Anak-anak putra pun tidak mau kalah dengan ayah mereka, mereka ikut menyusul ke lapangan dan ikut serta dalam pertandingan tersebut. 
 
 

Sementara bapak-bapak bertanding futsal, kantor SD Juara disulap menjadi dapur umum tempat meracik rujak buah. Buah-buahan dalam jumlah banyak telah tersedia, begitu pula dengan segala bahan-bahan pembuatan sambal rujaknya. Riuh sekali suasana saat itu, harap maklum, jika ibu-ibu berkumpul pastilah obrolan-obrolan seru tidak dapat dihindarkan. Suasana akrab dan hangat pun membersamai aktivitas potong-memotong dan ulek mengulek. Sehingga tak terasa semua pekerjaan telah selesai.

Bapak-bapak selesai futsal dan ibu-ibu selesai menyiapkan hidangan, maka tidak tidak perlu berpanjang lebar basa-basi, pestapun dimulai. Acara dibawakan oleh pak Agus Sudrajat dengan menarik, hingga tak terasa semua piring yang semula penuh kosong sudah bersih, tanda bahwa isinya sudah berpindah ke perut para peserta. 
 
 

Setelah semua menikmati hidangan jasmani, maka selanjutnya adalah menikmati hidangan bagi ruhani dan pikiran, dengan dihadirkannya Ibu Dyah Woro Haswini, seorang pakar keluarga yang tidak asing lagi bagi masyarakat semarang. Beliau memaparkan mengenai materi “ketahanan keluarga” bagaimana dasar-dasar ketahanan keluarga serta tips-tips dalam menciptakan ketahanan keluarga. Materi disampaikan dengan sangat menggugah sehingga waktu tak terasa sudah mendekati waktu dzuhur, tanda kebersamaan hari itu harus segera diakhiri. Maka acara pun ditutup dan dilanjutkan dengan kerja bakti bersih-bersih dan cuci piring.

Semoga acara ini dapat mendekatkan antara anggota keluarga besar SD Juara Semarang. 
 
  Ditulis oleh Yulifia Kurnia Putri (LSU)

Rabu, 25 Januari 2012

9 calon dokter ikuti training 3 hari



Pada tanggal 18-20 Januari 2012 pekan lalu, 9 siswa SD Juara Semarang mengikuti pelatihan dokter kecil yang diselenggarakan oleh Dabin I Gugus Supriyadi UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Pedurungan Kota Semarang.


9 siswa yang berobsesi jadi dokter tersebut semuanya berasal dari kelas IV. Mereka adalah; Alfian Fathan Mubina, Muhammad Zayyan Abdullah, Jundi Assahid, Rifqi, Irfan Nugraha, Syafina Nur, Aisyiyah, Almadinatul Akmala, dan Nusaibah.

Kamis, 19 Januari 2012

Belajar Birrul Walidain


Jum’at dan Sabtu pekan lalu menjadi special moment bagi siswa kelas III dan IV SD Juara Semarang. Sekolah mengadakan MABIT di luar sekolah. Tepatnya di komplek sekolah alam Semarang yang sejuk dan rindang. Sekolah tersebut bisa dibilang sangat mewah (mepet sawah) karena memang berada di samping persawahan salah satu kampung di Tembalang Semarang.

  Sedianya sekolah berencana mengajak siswa camping di sebuah bumi perkemahan. Tapi karena kondisi cuaca yang kurang memungkinkan maka kegiatan dirubah menjadi MABIT tapi tetap ada kontent acara seperti camping.

Berikut resume kegiatannya:


Kegiatan yang bertema Change for better future ini bertujuan untuk memberikan motivasi, pembiasaan taqarrab illallah dan juga penyadaran pentingnya birrul walidain. Hal itu terlihat dari kontent acara yang diadakan diantaranya; wirid al Ma’tsurat, qiyamul lail, dan muhasabah. Selain itu untuk menyadarkan siswa tentang pentingnya dan dahsyatnya birrul walidain di malam Sabtu mereka disuguhi talkshow birrul walidain. Bentuk acara nya ada 4 guru yang berstatus yatim/piatu bercerita secara bergantian pengalaman mereka ketika ada dan tidak adanya salah satu orangtua mereka. Hampir semua siswa menangis terharu mendengar parade cerita para guru.


Pagi harinya siswa dibangunkan pukul 3 pagi untuk muhasabah dan qiyamul lail. Untuk acara muhasabah, guru telah menyiapkan prototipe batu nisan yang telah di tempel nama-nama salah satu orangtua siswa dan di tancapkan ke tanah layaknya pekuburan. Salah satu guru memberikan agitasi terkait bagaimana hubungan siswa selama ini dengan orangtua dan bagaimana jika orangtua mereka lebih dulu meninggal. Kembali isak tangis membuncah. Setelah muhasabah dilanjutkan dengan qiyamul lail hingga menjelang subuh.


Ba’da subuh dan wirid al-ma’tsurat siswa diajak jalan-jalan menyusuri sungai besar yang mengitari kampung tempat acara diadakan. Karena malam harinya hujan maka jalananpun becek. Kondisi itu semakin menambah asyik perjalanan. Terlihat sekali keceriaan dan keriaangan siswa sepanjang perjalanan.


Usai perjalanan dan sarapan pagi siswa diajak berkunjung kerumah seorang nenek tua yang sudah berumur 90 tahun. Nenek tersebut adalah istri dari orang yang dulu membuka tanah kampung menjadi perkampungan. Namun tidak banyak warga yang tahu dan peduli dengannya. Siswapun menyalami dan mendengarkan cerita sang nenek. Sekolah memberikan bingkisan sembako dan uang untuk membantu nenek tersebut.


Semua siswa merasa puas dan senang dengan serangkaian acara MABIT kali ini. Banyak dari mereka yang meminta pada guru untuk diulang lagi acara serupa di waktu mendatang. Dari 2 kelas hanya 1 siswa yang berhalangan ikut karena neneknya sakit.

Semoga dengan MABIT ini menggugah kesadaran siswa untuk semakin mencintai dan berbakti kepada kedua orangtua. Manusia yang menentukan keridhaan Allah pada kita. Amin.

Senin, 16 Januari 2012

Bimbingan Belajar Baca Tulis



Ditulis oleh Diah Anggraini (Guru Kelas IV)


"Siapa yang tahu, ini gambar apa ya?" Kata Bu Ipung pembimbing belajar baca tulis bagi anak-anak yang belum mampu membaca dan menulis. Anak-anak serempak menjawab "Macan bu?" "Siapa yang ingin tahu cerita dalam buku ini?" tanya Bu Ipung lagi sambil menunjuk buku cerita. "Saya, saya bu?" anak-anak dengan semangat menjawab. "Bagus syaratnya harus bisa membaca. Yuk kita belajar membaca bersama", ajak Bu Ipung. 


Alhamdulillah itulah sekilas kegiatan perdana belajar membaca dan menulis di SD Juara Semarang yang diadakan setelah pulang sekolah mulai pekan kemarin. Kegiatan ini dibimbing oleh Ibu Dra. Sri Purwaningsih atau biasa dipanggil Bu Ipung penemu metode ba bi bu be bo dari Semarang. 


Sebenarnya bimbingan belajar baca tulis sudah dilaksanakan sejak awal sekolah berdiri karena kondisi siswa yang masuk hampir 50% belum bisa baca tulis. Kami memilih metode ba bi bu be bo karena penemu metode berada di Semarang sehingga sangat mudah kami mengakses ilmu dari beliau. Setahun lebih kami mencoba mengaplikasikan sendiri ilmu dari beliau ternyata belum menunjukkan hasil yang menggembirakan sehingga mulai semester ini kami langsung memohon beliau untuk turun tangan mengelola bimbingan belajar baca tulis.

Untuk awal kami jadwalkan  dua kali pertemuan dalam sepekan. Selain belajar membaca siswa juga belajar menulis halus. Targetnya dalam 3 bulan siswa yang belum lancar membaca akan lancar membaca sekaligus bisa menulis halus. Semoga di semester ini semua siswa yang belum lancar membaca dan menulis dimudahkan Allah bisa lancar membaca dan menulis dan kedepannya menjadi siswa yang gemar membaca dan suka menulis. Mohon do'anya yach!!! 

Kamis, 12 Januari 2012

Sekolah maqam tertinggi


Sekolah seperti apakah yang memiliki maqam tertinggi? 

“Sekolah yang ketika menerima siswa tidak menjadikan seperangkat test seleksi sebagai penentu diterima atau tidaknya sang siswa. Test yang penting adalah test denyut nadi. Jika ada denyut nadinya maka ia diterima. Selain denyut nadi parameter lainnya adalah jumlah kursi yang tersedia di ruang kelas. Itulah sekolah dengan maqam tertinggi” Munif Chatib.


Pernyataan diatas sangat paradoks dengan realita yang ada. Banyak sekolah berlabel unggul, teladan, bahkan berstandar internasional tapi siswa yang masuk ke sekolah tersebut harus melalui test-test seleksi yang sangat ketat dengan sistem gugur. Hanya yang ranking teratas sampai batas yang ditentukan saja yang akan diterima menjadi siswanya. Sehingga bisa dipastikan input atau siswa yang masuk ke sekolah tersebut hanya yang pintar secara akademis dan berhasil mengerjakan soal-soal test tertulis atau paper test dengan nilai terbaik. Sementara yang tidak bisa mengerjakan test akan tersisih.

Sungguh sekolah yang siap menerima anak siswa dalam kondisi apapun itulah yang layak menjadi sekolah maqam atau level tertinggi. Dalam hal ini pemerintah sudah menfasilitasi agar sekolah-sekolah di negeri kita ini menjadi sekolah level tertinggi, salah satunya dengan Permendiknas No. 70 tahun 2009 tentang maklumat sekolah inklusi. Yaitu sekolah reguler atau umum yang siap menerima siswa yang teridentifikasi berkebutuhan khusus. Inilah sekolah maqam tertinggi itu.

Di tahun kedua ini, SD Juara Semarang sudah menerima beberapa siswa berkebutuhan khusus. Diantaranya ada yang autis, grahita, dan gangguan wicara. Meski belum ada guru pendamping khusus maupun tenaga khusus sekelas psikolog di satu semester ini sudah terlihat perkembangan yang cukup menyenangkan. Hal ini tidak saja yang terlihat di sang anak, tapi juga berdasar testimoni orangtua mereka. “Alhamdulillah setelah disini akhlaq mas Ruby lebih baik”, komentar orangtua Ruby siswa kelas III yang katanya autis. Ada 7 siswa kami yang istimewa. Para guru menyebut mereka dengan sebutan ‘black pearl’ yang artinya mutiara hitam yang konon lebih mahal dari mutiara putih.

Dengan kondisi tersebut diatas bukan berarti kami mengklaim sebagai sekolah maqam tertinggi, namun setidaknya kami berusaha menuju kesana. Dan kami mengajak ke semua sekolah seyogyanya siap menjadi sekolah maqam tertinggi yang mau menerima semua anak dengan segala kondisinya. Dari pengalaman yang kami alami sebenarnya semua anak termasuk yang berkebutuhan khusus hanya butuh dari kita menyediakan lingkungan yang kondusif bagi mereka tumbuh berkembang secara fisik maupun psikologis. Kita hanya perlu menfasilitasi mereka saja. Maka mereka sendiri yang akan memproses dirinya dan menemukan dirinya. Dengan pemikiran seperti ini maka akan ada optimis kita mampu menuju sekolah inklusi atau sekolah dengan maqam tertinggi.

Rabu, 04 Januari 2012

"Setiap Anak adalah Juara" Parenting School edisi spesial




Ditulis oleh: Yulifia Kurnia Putri (LSU SD Juara Semarang)

“Alhamdulillah, di akhir tahun ini saya mendapatkan pencerahan yang luar biasa dari Pak Munif”. Begitu tutur seorang peserta Seminar Pendidikan “setiap anak adalah juara”, yang merupakan edisi special dari parenting school rutin SD Juara Semarang. Parenting School ini menghadirkan pakar multiple intelligences Indonesia sekaligus penulis buku best seller Sekolahnya Manusia dan Gurunya Manusia, bapak Munif Chatib.
 

Acara ini dilaksanakan di Waroeng Djoglo, tidak jauh dari SD Juara semarang. Pada hari Sabtu, 31 Desember 2011, atau hari terakhir di tahun 2011. Acara ini juga menghadirkan Bapak Ciptono, kepala sekolah SLB Negeri Semarang, ketua komite SD Juara Semarang yang pernah menjadi pemenang Kick Andy Heroes bidang pendidikan tahun 2009. Pada kesempatan ini, pak cip membawa serta dua siswanya yang berkebutuhan khusus namun memiliki potensi yang luar biasa, satu adalah bakhul, si tunagrahita yang pandai menyanyi dan hafal banyak sekali lagu, juga Bagus yang tunanetra namun pandai matematika dan membaca prosa. 
 
Acara ini diikuti tidak saja oleh wali murid SD juara Semarang, namun juga peserta umum dari luar. 22 peserta umum, 4 tamu undangan dan beberapa amil rumah zakat nampak memenuhi kursi yang disediakan oleh panitia. Dalam kesempatan ini Pak Munif menggugah para peserta mengenai kemajemukan kecerdasan anak, meruntuhkan pandangan umum selama ini bahwa anak cerdas itu hanya dinilai dari pelajaran matematika saja. Dalam otak anak terdapat banyak sekali cluster kecerdasan, yang kadang salah satunya rusak atau lemah, namun sebenarnya masih ada banyak cluster kecerdasan yang bisa dioptimalkan dan dilejitkan. 
 
Pak munif menggambarkan ada 5 hadiah yang bisa didapatkan orang tua dari anak-anak mereka. Hadiah itu adalah Bintang yang cerah cemerlang, samudra luas dengan segala isinya, harta karun yang berharga namun masih menjadi misteri, penyelam yang kita sebagai orang tua harus mampu menyelami samudra luas itu, dan yang terakhir adalah bakat. 
 
Dalam seminar ini nampak sekali antusiasme para peserta, baik dari internal wali murid SD Juara maupun dari peserta umum, banyak sekali yang mengajukan pertanyaan, atau sekedar sharing mengenai masalah yang muncul pada anak-anak atau siswa mereka. Sayang sekali waktu yang tersedia sangat terbatas, sehingga tidak semua pertanyaan peserta dapat tersampaikan dengan sempurna. semoga bisa menginspirasi kita semua… 
 
“tidak ada yg namanya produk gagal Allah, karena Allah tidak pernah gagal menciptakan”