Teatrikal PUNAKAWAN

Teatrikal Punakawan mensosialisasikan tata tertib sekolah

T A R H I B Ramadhan 1433 H

Aksi kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1433 H

Bisnisday Ramadhan 1433 H

Jualan ta'jil. Hasil penjualan diberikan semua untuk membantu warga muslim Rohingya.

Teng Dung

Aksi membangunkan warga sekitar sekolah untuk segera bersiap makan sahur

Aksi Hari Anak Sedunia

Pembelajaran outdoor kelas V pelajaran PKn. Menyeru hentikan kekerasan terhadap anak

Jumat, 28 Juni 2013

"Ini Lho, Kelebihanku"


Ditulis oleh Zainal El Bughuri  



Kota Atlas, 28/6/13. Menutup kegiatan pembelajaran di tahun ajaran 2012 – 2013 SD Juara Semarang menyelenggarakan kegiatan akhiru-sanah (kenaikan kelas,red).  Kegiatan diisi dengan berbagai penampilan siswa, pemberian reward untuk orang tua siswa dan parenting school dengan narasumber bapak Joko Kristiyanto, S.Pd dari Kota Kembang.


Untuk penampilan siswa masing-masing kelas diberi kebebasan tampil sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Mulai dari; tahfizh, gerak tari dan lagu, drama, tari daerah, puisi, main bola (biola,red), rebana, sampai musik rombeng alias musik yang menggunakan alat musik dari barang-barang bekas. Semua siswa merasa senang dan ceria karena bisa tampil di hadapan orang tuanya.

Penampilan siswa tersebut, harapannya menjadi pengalaman yang luar biasa karena bisa mengekspresikan diri, merasa dihargai dan difasilitasi. Demikianlah seharusnya setiap entitas pendidikan memaknai akhir dari masa pembelajaran di setiap rentang waktunya. Tidak hanya sekedar memperlihatkan hasil belajar berupa angka-angka di raport yang kurang mengintrepretasikan potensi siswa yang sesungguhnya. Ironinya siswa yang mendapatkan nilai minim atau merah sering menjadi bahan olok-olokkan di rumah atau oleh teman mainnya.

Karena itu, untuk meminimalisir kekecewaan anak terhadap nilai angka di raport perlu adanya ekspresi potensi, agar si-anak bisa berkata “ini lho kelebihanku”, sehingga orang tua bisa mengapresiasi “sisi lain” dari diri si-anak. Harapannya agar orang tua tidak hanya bisa menerima atau memberikan apresiasi ketika si-anak dapat nilai angka tinggi saja, akan tetapi bagaimana ia bisa mensikapi secara bijak ketika kondisi si-anak sebaliknya.

Tidak semudah mengedipkan mata memang untuk memberikan pemahaman terhadap orang tua bahwa nilai angka bukan menjadi “harga mati” cermin kecerdasan si-anak. Harus ada langkah – langkah yang ditempuh, agar orang tua bisa mengubah paradigma lamanya. Oleh karena itu, SD Juara senantiasa melakukan pendekatan pemahaman terhadap orang tua siswa, melalui kegiatan parenting school yang dilakukan secara  intensif sebulan sekali, tentunya dengan narasumber yang paham akan arti pendidikan yang sesungguhnya.

Sabtu, 15 Juni 2013

WARNA - WARNI DI KEMAH JUARA

Ditulis oleh M. Zainal El bughuri


Kegiatan kemah seperti ini adalah program rutin tahunan di SD Juara Semarang. Sama halnya mungkin dengan di sekolah lain. Bedanya, selain konten acara, yang nampak jelas adalah dari pakaian yang digunakan peserta.

Jika di sekolah lain semua peserta memakai seragam yang sama disini semua peserta berpakaian lapangan bebas karena memang belum memiliki seragam. Karena keterbatasan dana sekolah belum bisa membuatkan seragam khusus untuk kegiatan diluar atau seragam pramuka. Selama ini sekolah baru bisa menyediakan seragam merah putih, batik, dan kaos olahraga.

         


Ada kelebihan yang muncul ketika anak-anak dibebaskan dalam pakaian. Seperti nampak di foto diatas, justru jadi indah berwarna warni. Selain itu guru pun lebih mudah mengenali dan memahami siswa dengan berpakaian bebas seperti itu.

Walaupun kami juga masih berharap ada dana segar yang bisa membantu pengadaan seragam khususnya pramuka untuk semua siswa juara.

Bagi sahabat yang berniat berdonasi bisa transfer ke rek donasi Bank Mandiri 131 00 1001979 4 a.n. Rumah juara Indonesia. Setelah transfer mohon konfirmasi via SMS ke nomor HP. 085720334444 (SMS center).

Senin, 03 Juni 2013

Aku Hanya Butuh Perhatian

Ditulis oleh Zainal El bughari

Sobat juara, tak satu pun manusia yang lahir ke dunia ini,  ingin terlahir dalam keadaan tidak sempurna. Begitupun kakak beradik ini (Dhimas dan Bagas). Keduanya  mengalami gangguan alat komunikasi dan lambat belajar. Dhimas yang sudah berusia 10 tahun harus menambah satu tahun  masa belajarnya di kelas 2 untuk bisa menemukan potensi dirinya sedikit-demi sedikit. Adapun Bagas, sang adik masih duduk di kelas 1 keadaannya tidak jauh berbeda degan sang kakak. Setelah kami menggali informasi dari berbagai sumber, keadaan kakak beradik ini memang tidak lepas dari kondisi keluarga, peribahasa mengatakan buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kondisi ibu yang cenderung memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, sepertinya menurunkan gen kepada kakak beradik ini.



(Tanpa bermaksud menyalahkan) Keadaan mereka diperparah dengan kurangnya perhatian orang tua terhadap perkembangan pendidikan. Mungkin pikirnya, "aku lebih baik mencari sesuap nasi daripada sibuk mengurusi segala keperluan sekolah anakku."  Memang, secara ekonomi keluarga mereka jauh dari kriteria keluarga sejahtera. Sang ayah bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan tidak seberapa, bahkan kadang tidak berpenghasilan sama sekali. Sang ibu tentu tidak ingin anak-anaknya kelaparan karena tidak ada makanan yang bisa dimakan. Mengemis menjadi pilihan terakhir bagi sang ibu untuk membantu suami menutupi kebutuhan ekonomi keluarga. Setiap hari pergi pagi pulang sore menjadi rutinitas yang sulit untuk ditinggalkan. Bahkan terkadang Dhimas dan Bagas menjadi tameng belas kasih orang kepadanya.

Suatu ketika saya sedang jalan-jalan pagi di alun-alun kota Semarang (simpang lima) dan berteduh di bawah pohon, tiba-tiba dari arah belakang ada suara "pak kasih pak...." berulang - ulang. Sayapun langsung putar badan. Ternyata suara tadi adalah suara ibu Dhimas dan Bagas menyodorkan gelas plastik bekas air mineral yang sudah berisi kepingan uang logam entah berapa jumlahnya. Betapa terkejutnya saya melihat dengan mata kepala sendiri, ibu dan kedua anak tersebut sedang meminta-minta. Sempat terdiam beberapa saat sebelum menyapa dan memberikan sedikit makanan yang saya bawa dari rumah.  Sang ibu dan kedua anaknya menerima makanan yang saya sodorkan lalu pergi melanjutkan langkahnya untuk mengiba.

Belakangan, saya juga pernah memergoki sang ibu sedang duduk-duduk di teras sebuah  mesjid yang berada tak jauh dari sekolah kami sambil memegangi sebuah gelas plastik kosong. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan, setiap hari jum'at ibu itu selalu mangkal di mesjid untuk mengais beberapa keping uang logam jama'ah.

Miris memang melihat ada orang tua siswa kami yang seperti itu, tapi mau bagaimana lagi kami sudah berusaha menasehati, mengarahkan bahkan mencarikan solusi pekerjaan yang lebih baik seperti menjadi buruh cuci rumah tangga. Tapi, karena sudah merasa nyaman dengan meminta-minta, pekerjaan apapun tidak akan bisa merubah profesinya kecuali jika penghasilannya di atas rata-rata pendapatan dari mengemis. Akhirnya, kami memilih untuk fokus menyelamatkan two pearls hidden in the mud. Bagaimana kisah selanjutnya ? . . .